Al-Qur’an Tak Cukup Hanya Dihafal

Total Views : 343
Zoom In Zoom Out Read Later Print

Banyak sekali pesantren tahfidz bermunculan saat ini. Tetapi, hal itu sejalan dengan berkembangnya monotafsir terhadap Al-Qur'an. Ayat-ayatnya dijadikan dalil untuk membenarkan tindakan radikal dan menyalahkan penafsiran lainnya.

Banyak sekali pesantren tahfidz bermunculan saat ini. Tetapi, hal itu sejalan dengan berkembangnya monotafsir terhadap Al-Qur'an. Ayat-ayatnya dijadikan dalil untuk membenarkan tindakan radikal dan menyalahkan penafsiran lainnya.

Selain itu, masih banyak orang mengira bahwa bacaan Al-Qur'an itu hanya sebatas satu versi saja, padahal setidaknya yang sahih ada tujuh macam jenis bacaan. Perbedaan bacaan itu ternyata berkorelasi terhadap kehidupan.

Oleh karena itu, pada Rapat Kerja Nasional IV Jam’iyyatul Qurra wal Huffadz Nahdlatul Ulama (JQH NU), Jurnalis NU Online Syakir NF berkesempatan mewawancarai Ketua Umum JQH NU KH Abdul Muhaimin Zen sebelum acara penutupan di Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah, Ciganjur, Jakarta, Ahad (15/4). Berikut petikan wawancaranya:

Bagaimana pandangan Kiai terhadap orang yang hafal Al-Qur'an tetapi tidak paham maknanya?

Al-Qur'an rahmatan lil alamin ini berlaku untuk seluruh umat. Tetapi terjadi pada ayat yang sama, tetapi pemahamannya berbeda. Contohnya, aqim al-shalata liduluki al-syamsi ilaa ghasaqi al-laili wa qurana al-fajr (al-ayat). Ini mayoritas ulama ahlussunnah wal jama'ah memahami shalat sehari semalam itu lima kali. Tapi ada pihak lain memahami Al-Qur'an dari ayat yang ini, kewajiban shalat itu hanya tiga kali saja. Jadi, yang kita cari itu cara berpikirnya seperti apa.

Wa jahidu biamwalikum wa anfusikum, jihad. Satu ayatnya. Tetapi bisa melahirkan toleransi, bisa melahirkan rahmat, bisa melahirkan ketenangan. Tapi dari ayat ini juga bisa melahirkan kekerasan, perang, terorisme, ISIS, Al-Qaida. Itu karena beda pemahaman cara berpikirnya.

Misi kita di Nahdlatul Ulama, ini yang akan kita angkat dalam rangka memberikan pemahaman, minimal kepada anggotanya. Sementara memang tahap penghafal saja sudah dihormati dan banyak fadlilahnya. Tapi hanya dengan menghafal saja belum cukup, harus dibekali dengan pemahaman. Karena tujuan Al-Qur'an itu hudan linnas, petunjuk bagi manusia. 

Bagaimana supaya memperoleh petunjuk?

Itu harus dibaca, dipahami, dihayati, baru diamalkan. Kalau hanya dibaca saja tingkatannya baru dapat pahala, belum sampai sasaran.

Bagaimana perkembangan qiraat sab’ah saat ini?

Ulama membaca Al-Qur'an itu sebenarnya mempunyai imam, sama halnya fikih mempunyai imam. Kalau fikih imam mazhabnya itu Maliki, Hanafi, Syafii, Hambali, Abu Dawud, Abu Ja’far. Kalau dalam mazhab Qur'an itu ada Imam Nafi, Abu ‘Amr, al-Kisai, Hamzah. Kemudian riwayatnya Qalun, Warsy, al-Duri, al-Susi, Khalaf, Khalad, itulah ya. Masing-masing imam ini mempunyai riwayat dua.

Di Indonesia, yang berkembang ini hanya Imam Hafsh saja. Padahal banyak imam yang lain. Ketika ada orang lain datang dari Timur Tengah baca Al-Qur'an yang bukan Hafsh, ini menganggap salah, karena itu ketidaktahuan mereka, padahal itu mutawatir dan itu sah.

Ini perlunya kita mendidik masyarakat supaya melek, supaya tahu bahwa baca Al-Qur'an itu tidak hanya satu versi saja, itu tujuannya.

Belajar mengaji Al-Qur’an dengan berbagai versi itu, apa relevansinya terhadap kehidupan?

Info Detail http://www.nu.or.id/post/read/88930/al-quran-tak-cukup-hanya-dihafal

Index

Video Terbaru